
Multazam merupakan salah satu tempat paling mulia di Masjidil Haram, yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempat ini memiliki kedudukan khusus dalam hati umat Islam karena dipercaya sebagai lokasi yang sangat mustajab untuk berdoa. Banyak jamaah haji dan umrah yang sengaja berdesakan untuk mendekat ke Multazam, menempelkan dada, wajah, dan tangan sambil memanjatkan doa dengan penuh harap kepada Allah SWT. Dalam sejarahnya, Multazam menjadi saksi bisu dari jutaan doa yang terucap dengan linangan air mata dan keikhlasan hati.
Pengertian Multazam
Secara bahasa, kata “Multazam” berasal dari bahasa Arab yang berarti “tempat berlindung” atau “tempat berpegang”. Dalam konteks ibadah haji dan umrah, Multazam merujuk pada bagian dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Panjangnya sekitar dua meter, namun memiliki keutamaan yang begitu besar bagi umat Islam.
Multazam dikenal sebagai tempat yang menjadi perantara antara hamba dengan Tuhannya. Siapa pun yang berdoa di sana dengan tulus dan penuh pengharapan, insya Allah doanya akan dikabulkan. Inilah sebabnya mengapa area ini selalu dipenuhi jamaah yang memohon ampunan dan rahmat.
Sejarah dan Kedudukan Multazam
Sejarah Multazam sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Ketika pembangunan selesai, beliau memanjatkan doa agar rumah itu menjadi tempat yang penuh berkah dan menjadi pusat ibadah umat manusia. Dari doa inilah, muncul pemahaman bahwa dinding Ka’bah, termasuk bagian Multazam, memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, Multazam juga menjadi tempat beliau berdoa dan menangis di hadapan Allah. Para sahabat meriwayatkan bahwa Nabi sering menempelkan tubuhnya ke dinding Ka’bah di bagian Multazam dan berdoa memohon ampunan serta kebaikan bagi umatnya. Hal tersebut menjadi dasar kuat bahwa Multazam merupakan tempat doa yang sangat mustajab dan dianjurkan untuk dimanfaatkan sebaik mungkin saat beribadah di Tanah Suci.
Baca juga : Keutamaan dan Keistimewaan Kota Makkah dalam Ibadah dan Sejarah Islam
Letak dan Ciri Fisik Multazam
Multazam terletak tepat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, di sisi timur bangunan Ka’bah. Letaknya sangat dekat dengan area thawaf sehingga mudah dikenali oleh para jamaah. Panjangnya sekitar dua meter, dan biasanya tampak sedikit mengilap karena sering disentuh oleh jamaah yang berdoa.
Ciri khas Multazam adalah dindingnya yang halus dan hangat, serta posisinya yang selalu ramai oleh jamaah yang ingin mendekat. Banyak yang menempelkan dada, wajah, dan tangan ke dinding tersebut sambil menangis dalam kekhusyukan. Meski tidak ada perintah khusus untuk menyentuhnya, namun tindakan itu telah menjadi bentuk ekspresi cinta dan kerinduan kepada Allah SWT.
Keutamaan Berdoa di Multazam
Multazam dikenal sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa yang dipanjatkan di tempat ini tidak akan ditolak oleh Allah SWT, selama dilakukan dengan hati yang ikhlas.
Keutamaan ini membuat para jamaah sangat bersemangat untuk berdoa di sana, meski harus berdesakan di tengah keramaian. Banyak yang memohon ampunan, kesehatan, rezeki, keselamatan keluarga, hingga kemudahan hidup. Doa yang dipanjatkan di Multazam dipercaya memiliki nilai spiritual yang mendalam, seolah-olah langsung disampaikan kepada Allah SWT tanpa penghalang.
Selain itu, Multazam juga menjadi tempat bagi jamaah untuk memperbarui niat dan memperdalam keimanan. Saat menempelkan diri di dinding suci itu, banyak hati yang luluh dan meneteskan air mata karena merasakan kedekatan luar biasa dengan Sang Pencipta.
Baca juga : Keagungan Makam Rasulullah: Tempat Mulia yang Penuh Sejarah dan Keberkahan
Adab dan Cara Berdoa di Multazam
Berdoa di Multazam harus dilakukan dengan penuh adab dan ketenangan. Meski tempat ini sangat ramai, jamaah diharapkan menjaga ketertiban dan tidak menyakiti orang lain demi bisa mendekat.
Adab berdoa di Multazam antara lain:
- Menghadap ke dinding Ka’bah dan menempelkan dada, wajah, serta tangan.
- Berdoa dengan suara lembut dan penuh kekhusyukan.
- Tidak memaksakan diri jika tempat terlalu padat.
- Menjaga niat agar doa dilakukan semata-mata karena Allah.
Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di Multazam. Jamaah dapat memanjatkan doa sesuai kebutuhan masing-masing, seperti memohon ampunan, rahmat, petunjuk, dan kebaikan dunia akhirat.
Waktu Terbaik Berdoa di Multazam
Meskipun Multazam selalu terbuka untuk berdoa kapan pun, ada waktu-waktu yang dianggap lebih mustajab untuk berdoa di tempat ini. Beberapa waktu yang sangat dianjurkan antara lain:
- Setelah selesai thawaf dan sebelum Sa’i.
- Di waktu malam ketika suasana Masjidil Haram lebih tenang.
- Setelah salat wajib ketika hati sedang lembut dan khusyuk.
- Saat hujan turun di sekitar Ka’bah, karena itu waktu mustajab berdoa.
Banyak jamaah memilih waktu malam untuk mendekat ke Multazam karena suasananya lebih hening dan memberikan ketenangan batin yang mendalam.

Doa yang Dianjurkan di Multazam
Meskipun tidak ada doa baku yang diwajibkan, Rasulullah SAW dan para ulama memberikan contoh doa yang baik untuk dibaca di Multazam. Di antaranya adalah doa memohon ampunan, rahmat, dan perlindungan dari siksa.
Salah satu doa yang sering diamalkan adalah:
“Ya Allah, inilah tempat yang Engkau muliakan, maka aku datang memohon kepada-Mu. Ampunilah dosaku, luaskan rezekiku, sehatkan tubuhku, dan kuatkan imanku. Jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang Engkau cintai.”
Doa ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Yang terpenting, doa diucapkan dengan hati yang ikhlas dan penuh kerendahan.
Pengalaman Spiritual di Multazam
Bagi banyak jamaah, Multazam bukan sekadar tempat untuk berdoa, tetapi juga menjadi momen spiritual yang tak terlupakan. Banyak yang merasakan kedamaian luar biasa saat menempelkan diri di dinding Ka’bah, bahkan menangis tanpa disadari. Ada perasaan seolah-olah seluruh dosa sedang dihapus, dan hati terasa begitu dekat dengan Allah.
Beberapa jamaah juga merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan, seakan semua beban hidup lenyap saat berada di hadapan rumah Allah. Momen di Multazam sering menjadi titik balik spiritual bagi banyak orang, yang pulang dari Tanah Suci dengan hati yang lebih lembut dan iman yang lebih kuat.
Hikmah dan Pesan Moral dari Multazam
Multazam mengajarkan makna penghambaan sejati kepada Allah SWT. Di tempat ini, setiap orang melepaskan keangkuhan, melupakan perbedaan status, dan berserah sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Multazam menjadi simbol kedekatan, kerendahan hati, dan penyerahan total.
Selain itu, Multazam juga mengingatkan kita bahwa Allah Maha Mendengar setiap doa, di mana pun kita berada. Namun, di tempat-tempat mulia seperti ini, doa seolah memiliki kekuatan yang lebih besar karena dipanjatkan dengan hati yang benar-benar berserah.
Bagi umat Islam, hikmah terbesar dari Multazam adalah kesadaran bahwa setiap manusia hanyalah hamba yang lemah di hadapan Tuhannya. Tidak ada kekuatan selain pertolongan Allah, dan tidak ada tempat kembali selain kepada-Nya.
Kesimpulan
Multazam adalah tempat yang sangat istimewa di Masjidil Haram, menjadi simbol doa dan pengharapan umat Islam kepada Allah SWT. Keutamaan tempat ini tidak hanya terletak pada lokasinya di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, tetapi juga pada makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Berdoa di Multazam adalah kesempatan langka yang sebaiknya dimanfaatkan dengan penuh khusyuk, adab, dan keikhlasan. Melalui doa yang tulus di tempat yang suci ini, setiap jamaah diingatkan akan kebesaran Allah, sekaligus diharapkan pulang membawa hati yang lebih bersih dan iman yang semakin kuat.
Bagi Anda yang ingin melakukan wakaf Al-quran Haqqi Tour and Travel menyediakan layanan terpercaya untuk memenuhi ibadah ini. Hubungi Admin Haqqi Tour untuk informasi selengkapnya. Bersama Haqqi, jalani ibadah dengan ketenangan dan kepercayaan, memastikan kewajiban agama tetap terlaksana dengan baik.