Dalam ilmu hadits, terdapat berbagai istilah yang digunakan untuk membedakan jenis riwayat berdasarkan sanad dan sumber periwayatannya. Salah satu istilah penting yang sering dibahas dalam ulumul hadits adalah hadits maqthu. Banyak pelajar ilmu agama masih bingung membedakan antara hadits maqthu, hadits marfu’, dan hadits mauquf. Padahal, memahami hadits maqthu sangat penting agar tidak salah dalam mengambil hukum maupun memahami perkataan para ulama salaf.
Hadits maqthu adalah riwayat yang berhenti pada tabi’in, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun penjelasan mereka. Jenis hadits ini memang bukan sabda langsung Rasulullah ﷺ, tetapi tetap memiliki nilai penting dalam khazanah keilmuan Islam. Para ulama hadits menjelaskan bahwa memahami hadits maqthu dapat membantu seseorang mengenal metode para tabi’in dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah.
Pembahasan tentang hadits maqthu juga sangat relevan dalam kajian ilmu musthalah hadits. Banyak kitab klasik menjelaskan kedudukan hadits maqthu sebagai bagian dari pembagian hadits berdasarkan ujung sanad. Oleh sebab itu, pelajar ilmu agama perlu mengetahui ciri-ciri hadits maqthu, contohnya, serta cara membedakannya dari jenis hadits lain.
Allah SWT memerintahkan umat Islam agar memeriksa setiap berita yang datang sebelum mempercayainya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Qur’an, tepatnya Surah Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
Ayat ini menjadi dasar penting dalam ilmu hadits bahwa setiap riwayat harus diperiksa sanad dan matannya. Karena itu, pembahasan tentang hadits maqthu menjadi bagian penting dari upaya menjaga kemurnian ajaran Islam.
Dalam artikel ini akan dibahas secara lengkap mengenai pengertian hadits maqthu, ciri-ciri hadits maqthu, contoh-contohnya yang mudah diingat, perbedaannya dengan hadits lain, hingga hikmah mempelajarinya. Penjelasan disusun secara sederhana agar mudah dipahami sekaligus tetap sesuai dengan kaidah ilmu hadits dan target SEO yang relevan.
Pengertian Hadits Maqthu dalam Ilmu Hadits
Hadits maqthu adalah hadits yang sanadnya berhenti pada tabi’in dan tidak sampai kepada Rasulullah ﷺ. Dalam istilah ulama hadits, maqthu berarti “terputus” pada tabi’in. Maksudnya, perkataan atau perbuatan tersebut berasal dari generasi tabi’in, bukan dari sahabat ataupun Nabi Muhammad ﷺ.
Para ulama menjelaskan bahwa tabi’in adalah generasi yang bertemu dengan sahabat Nabi dalam keadaan beriman tetapi tidak sempat bertemu Rasulullah ﷺ. Karena itu, ketika seorang tabi’in mengatakan suatu pendapat atau melakukan suatu amalan lalu riwayatnya dicatat, maka riwayat tersebut disebut hadits maqthu.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits maqthu termasuk bagian dari pembagian hadits berdasarkan ujung sanad. Dalam kitab-kitab musthalah hadits, pembagian ini biasanya terdiri dari hadits marfu’, mauquf, dan maqthu. Ketiganya berbeda dalam sumber periwayatannya.
Hadits maqthu tidak bisa langsung dijadikan hujjah utama seperti hadits shahih yang marfu’ kepada Rasulullah ﷺ. Namun, sebagian ulama tetap menggunakannya sebagai penguat dalam memahami hukum Islam, terutama jika berkaitan dengan tafsir, adab, dan penjelasan amalan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an maupun sunnah shahih.
Keutamaan mempelajari hadits maqthu juga berkaitan dengan pentingnya mengikuti pemahaman generasi awal Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”
Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Generasi setelah sahabat adalah tabi’in, sehingga perkataan mereka memiliki nilai penting dalam memahami ajaran Islam.
Baca juga: Kisah Inspiratif dalam Asbabun Nuzul Surat An Nisa
Ciri-Ciri Hadits Maqthu yang Mudah Dikenali
- Sanadnya berhenti pada tabi’in. Jika sebuah riwayat hanya sampai kepada tokoh tabi’in seperti Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Musayyib, atau Ibrahim An-Nakha’i tanpa disandarkan kepada Rasulullah ﷺ, maka riwayat itu termasuk hadits maqthu.
- Isi riwayatnya bisa berupa perkataan, perbuatan, maupun fatwa tabi’in. Misalnya, seorang tabi’in menjelaskan tafsir ayat Al-Qur’an atau memberikan nasihat agama. Selama riwayat itu tidak disandarkan kepada Nabi ﷺ, maka hukumnya termasuk maqthu.
- Sering ditemukan dalam kitab tafsir dan atsar. Banyak kitab klasik memuat ucapan tabi’in ketika menjelaskan makna ayat Al-Qur’an. Hal ini karena para tabi’in merupakan murid langsung para sahabat sehingga pemahaman mereka dianggap sangat dekat dengan sumber ajaran Islam.
- Kedudukannya berada di bawah hadits marfu’ dan mauquf. Hadits marfu’ disandarkan langsung kepada Nabi ﷺ, sedangkan hadits mauquf berhenti pada sahabat. Adapun hadits maqthu hanya sampai pada tabi’in sehingga tingkat kekuatannya berbeda.
- Penggunaannya lebih banyak dalam penjelasan dan penguatan ilmu, bukan sebagai dalil utama hukum syariat. Meski demikian, ulama tetap menghormati perkataan tabi’in karena mereka adalah generasi terbaik setelah sahabat. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 100:
وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١٠٠
“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.”
Ayat ini menunjukkan kemuliaan generasi awal Islam, termasuk tabi’in yang mengikuti sahabat dengan baik.
Contoh Hadits Maqthu yang Mudah Diingat
Memahami contoh hadits maqthu akan membantu pelajar ilmu hadits mengenali bentuk riwayatnya dengan lebih mudah. Berikut beberapa contoh yang sering disebut dalam kitab ulumul hadits:
Hasan Al-Bashri berkata:
“Dunia hanyalah mimpi, sedangkan akhirat adalah kenyataan.”
Ucapan ini berasal dari tabi’in terkenal yaitu Hasan Al-Bashri, sehingga termasuk hadits maqthu.
Sa’id bin Musayyib berkata:
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”
Jika ucapan ini tidak disandarkan kepada Rasulullah ﷺ dan hanya berasal dari Sa’id bin Musayyib, maka statusnya maqthu.
Ibrahim An-Nakha’i pernah menjelaskan hukum suatu ibadah berdasarkan pemahamannya terhadap sunnah sahabat. Ketika riwayat tersebut hanya sampai kepadanya, maka disebut hadits maqthu.
Mujahid, murid Abdullah bin Abbas, sering menafsirkan ayat Al-Qur’an. Banyak tafsir beliau tergolong riwayat maqthu karena berhenti pada tabi’in.
Dalam kitab tafsir klasik, sering ditemukan kalimat:
“Qatadah berkata…”
atau
“Al-Hasan berkata…”
Bentuk seperti ini umumnya menunjukkan riwayat maqthu selama tidak disambungkan kepada Nabi ﷺ.
Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa hadits maqthu lebih sering berbentuk atsar atau ucapan ulama tabi’in. Oleh sebab itu, penting memahami sanad agar tidak salah mengira semua riwayat sebagai sabda Rasulullah ﷺ.
Perbedaan Hadits Maqthu dengan Hadits Marfu dan Mauquf
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan utama antara hadits maqthu, marfu’, dan mauquf:
A. Hadits Marfu’
- Disandarkan langsung kepada Rasulullah ﷺ.
- Bisa berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan Nabi.
- Menjadi sumber hukum utama setelah Al-Qur’an.
Contohnya:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Hadits ini berasal langsung dari Nabi ﷺ sehingga disebut marfu’.
B. Hadits Mauquf
- Sanad berhenti pada sahabat.
- Berasal dari ucapan atau perbuatan sahabat Nabi.
- Memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding maqthu.
- Contohnya perkataan Abdullah bin Mas’ud tentang adab dan ibadah.
C. Hadits Maqthu
- Sanad berhenti pada tabi’in.
- Berupa ucapan atau fatwa tabi’in.
- Tidak disandarkan kepada Nabi ﷺ maupun sahabat.
- Banyak ditemukan dalam kitab tafsir dan atsar.
Memahami perbedaan ini sangat penting dalam ilmu hadits agar tidak terjadi kesalahan dalam menetapkan hukum. Ulama hadits sangat teliti dalam membedakan sumber riwayat karena agama Islam dibangun di atas sanad yang jelas.
Imam Abdullah bin Mubarak pernah berkata:
“Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, siapa saja bisa berkata sesuka hatinya.”
Perkataan ini menunjukkan betapa pentingnya ketelitian dalam ilmu hadits.
Hikmah dan Pentingnya Mempelajari Hadits Maqthu
Mempelajari hadits maqthu memberikan banyak manfaat bagi pelajar ilmu agama. Salah satunya adalah membantu memahami cara berpikir dan metode ijtihad generasi tabi’in. Mereka adalah murid langsung para sahabat sehingga memiliki pemahaman yang dekat dengan ajaran Rasulullah ﷺ.
Selain itu, hadits maqthu juga membantu memperkaya penafsiran Al-Qur’an dan kajian fiqih Islam. Banyak ulama tafsir menggunakan atsar tabi’in untuk menjelaskan makna ayat Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan tabi’in tetap memiliki nilai ilmiah yang penting meskipun bukan hadits marfu’.
Hikmah lainnya adalah melatih ketelitian dalam menerima informasi agama. Dengan memahami perbedaan hadits maqthu dan jenis hadits lainnya, seorang muslim akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan dalil. Sikap ini sesuai dengan perintah Allah dalam Surah An-Nahl ayat 43:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ٤٣
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya belajar agama kepada ahli ilmu agar tidak salah memahami dalil dan riwayat.
Kesimpulan
Hadits maqthu adalah riwayat yang sanadnya berhenti pada tabi’in dan tidak sampai kepada Rasulullah ﷺ. Jenis hadits ini berbeda dengan hadits marfu’ yang berasal langsung dari Nabi ﷺ dan hadits mauquf yang berhenti pada sahabat. Memahami hadits maqthu sangat penting dalam ilmu musthalah hadits agar seorang muslim mampu membedakan sumber-sumber riwayat dengan benar.
Ciri-ciri hadits maqthu dapat dikenali dari sanadnya yang berhenti pada tabi’in, isi riwayatnya berupa ucapan atau perbuatan tabi’in, serta banyak ditemukan dalam kitab tafsir dan atsar. Contoh hadits maqthu juga cukup mudah dikenali karena biasanya diawali dengan penyebutan nama tabi’in tanpa menyandarkannya kepada Rasulullah ﷺ.
Dengan mempelajari hadits maqthu, umat Islam dapat memahami metode generasi awal dalam menafsirkan agama sekaligus meningkatkan ketelitian dalam menerima dalil. Semoga pembahasan tentang hadits maqthu: ciri-ciri dan contoh yang mudah diingat ini dapat menambah wawasan serta membantu memahami ilmu hadits dengan lebih baik dan benar.
Hadits adalah pedoman penting dalam Islam yang mengajarkan akhlak, ibadah, dan kehidupan sehari-hari. Dengan memahaminya, hati lebih tenang dan ilmu semakin bertambah. Untuk panduan lebih lanjut, hubungi Admin Haqqi Tour.
