Puasa merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk menahan lapar dan haus, puasa juga melatih pengendalian diri, kesabaran, keikhlasan, serta meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah Swt. Oleh karena itu, menjalankan puasa bukan sekadar memenuhi syarat sahnya ibadah, tetapi juga menjaga kesempurnaannya agar pahala yang diperoleh semakin besar.
Dalam praktiknya, banyak umat Islam yang telah memahami hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, tidak sedikit yang masih bingung mengenai perkara yang bersifat makruh saat puasa. Sebagian orang bahkan menganggap sesuatu yang makruh sama dengan hal yang membatalkan puasa, padahal keduanya memiliki pengertian yang berbeda dalam hukum Islam.
Memahami perkara-perkara yang makruh menjadi penting karena ibadah puasa tidak hanya dinilai dari sah atau tidaknya, tetapi juga dari kualitas pelaksanaannya. Menghindari perbuatan makruh merupakan bentuk kehati-hatian seorang muslim agar ibadah puasanya semakin sempurna dan tidak kehilangan nilai pahala akibat melakukan hal-hal yang sebenarnya dapat dihindari.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai pengertian makruh saat puasa, dasar hukumnya, berbagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan dengan hal yang membatalkan puasa, kesalahan yang sering dilakukan masyarakat, hingga tips praktis agar ibadah puasa menjadi lebih berkualitas.
Memahami Pengertian Makruh Saat Puasa
Dalam ilmu fikih, makruh adalah suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan akan memperoleh pahala, tetapi apabila dilakukan tidak sampai menimbulkan dosa. Dengan kata lain, hukum makruh berada di bawah hukum haram. Meski tidak berdosa, seorang muslim dianjurkan untuk menjauhinya sebagai bentuk kesempurnaan dalam menjalankan syariat.
Ketika dikaitkan dengan ibadah puasa, makruh saat puasa adalah segala bentuk aktivitas yang tidak membatalkan puasa, tetapi sebaiknya dihindari karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah atau berpotensi menyeret seseorang kepada hal-hal yang membatalkan puasanya.
Konsep ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memperhatikan aspek hukum yang bersifat sah atau batal, tetapi juga kualitas pelaksanaan ibadah. Semakin seseorang menjaga diri dari perkara makruh, semakin besar peluangnya memperoleh pahala yang sempurna.
Sebagai contoh, seseorang yang berkumur secara berlebihan ketika berwudu saat berpuasa tetap dianggap sah puasanya. Akan tetapi, tindakan tersebut menjadi makruh karena dikhawatirkan air masuk ke dalam tenggorokan sehingga akhirnya membatalkan puasa.
Hal yang sama berlaku pada berbagai aktivitas lain yang secara hukum tidak membatalkan puasa, tetapi lebih baik ditinggalkan demi menjaga kehati-hatian. Prinsip ini selaras dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya menjauhi perkara syubhat atau hal-hal yang dapat menimbulkan keraguan.
Dengan memahami pengertian ini, seorang muslim tidak hanya fokus menghindari pembatal puasa, tetapi juga menjaga adab dan etika selama menjalankan ibadah puasa.
Baca juga: Maag tapi Puasa? Jangan Takut Sebelum Tahu Penjelasan Ini
Dasar Hukum dan Hikmah Menghindari Perkara Makruh Saat Puasa
Islam mengajarkan agar ibadah dilakukan secara sempurna sesuai tuntunan Rasulullah saw. Walaupun Al-Qur’an tidak secara khusus menyebutkan daftar perkara makruh saat puasa, berbagai penjelasan ulama bersumber dari hadis Nabi serta kajian fikih yang telah berkembang selama berabad-abad.
Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk menjaga ibadah puasa dari berbagai hal yang sia-sia. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, seorang muslim juga diperintahkan menjaga lisan, pandangan, hati, serta perilakunya.
Para ulama kemudian menjelaskan bahwa berbagai aktivitas yang dapat mengurangi kesempurnaan puasa dikategorikan sebagai makruh apabila tidak sampai membatalkan puasa. Tujuan utamanya adalah menjaga kehormatan ibadah dan menghindarkan seseorang dari risiko batalnya puasa.
Hikmah menghindari perkara makruh sangatlah besar.
- Seseorang menjadi lebih berhati-hati dalam beribadah. Sikap kehati-hatian ini mencerminkan rasa hormat kepada syariat Allah.
- Menjauhi perkara makruh membantu meningkatkan kualitas spiritual selama Ramadan maupun puasa sunnah. Seorang muslim tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi berusaha mencapai derajat ihsan, yaitu beribadah sebaik mungkin.
- Menghindari hal-hal makruh juga melatih disiplin diri. Ketika seseorang mampu meninggalkan sesuatu yang sebenarnya boleh dilakukan meskipun makruh, ia akan lebih mudah meninggalkan hal-hal yang benar-benar haram.
Dengan demikian, menjauhi perkara makruh bukan sekadar mengikuti aturan fikih, tetapi juga menjadi bagian dari proses penyucian jiwa yang merupakan tujuan utama ibadah puasa.
Berbagai Hal yang Makruh Saat Puasa Beserta Contohnya
Para ulama menjelaskan sejumlah perbuatan yang termasuk makruh saat berpuasa. Meskipun tidak membatalkan puasa, perbuatan-perbuatan tersebut sebaiknya dihindari agar ibadah tetap terjaga kualitasnya.
Beberapa contoh makruh saat puasa yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut.
1. Berkumur atau memasukkan air ke hidung secara berlebihan
Saat berwudu, berkumur dan memasukkan air ke hidung merupakan sunnah. Namun, ketika sedang berpuasa, melakukannya secara berlebihan menjadi makruh karena berisiko menyebabkan air masuk ke tenggorokan.
Contohnya adalah seseorang yang sengaja berkumur berkali-kali hingga air hampir tertelan. Sikap seperti ini sebaiknya dihindari selama menjalankan puasa.
2. Mencicipi makanan tanpa kebutuhan yang mendesak
Mencicipi makanan tidak otomatis membatalkan puasa apabila tidak tertelan. Akan tetapi, melakukannya tanpa alasan yang jelas tergolong makruh karena berpotensi menyebabkan makanan masuk ke dalam mulut dan tertelan.
Sebaliknya, apabila seseorang harus mencicipi makanan karena alasan tertentu, misalnya ibu yang sedang memasak untuk keluarganya dan tidak ada orang lain yang dapat membantu, sebagian ulama memberikan keringanan selama makanan tidak ditelan.
3. Mengunyah sesuatu yang tidak diperlukan
Mengunyah permen karet tanpa rasa atau benda lain yang tidak memberikan manfaat termasuk perbuatan makruh. Aktivitas tersebut dapat merangsang keluarnya air liur secara berlebihan dan meningkatkan risiko tertelannya sesuatu.
Selain itu, kebiasaan ini juga dapat menimbulkan prasangka bahwa seseorang sedang makan.
4. Mencium aroma makanan secara sengaja untuk menikmati baunya
Apabila aroma makanan tercium secara tidak sengaja, tentu tidak menjadi masalah. Namun, sengaja menghirup aroma makanan secara berulang-ulang demi menikmati kenikmatannya dipandang makruh oleh sebagian ulama.
Hal ini bertujuan menjaga semangat pengendalian diri selama berpuasa.
5. Bersiwak atau menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang berlebihan
Membersihkan gigi tetap dianjurkan agar kebersihan mulut terjaga. Akan tetapi, penggunaan pasta gigi secara berlebihan hingga berisiko tertelan menjadi makruh.
Karena itu, banyak ulama menyarankan agar penggunaan pasta gigi dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama pada siang hari saat berpuasa.
6. Berlebihan dalam aktivitas yang melemahkan tubuh
Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi juga tidak dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat tanpa kebutuhan sehingga dapat membahayakan kesehatan.
Misalnya berolahraga dengan intensitas sangat tinggi saat cuaca terik hingga menyebabkan dehidrasi berat. Aktivitas seperti ini sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Perbedaan Makruh Saat Puasa dan Hal yang Membatalkan Puasa
Masih banyak masyarakat yang menyamakan perkara makruh dengan pembatal puasa. Padahal, keduanya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda.
Makruh merupakan perbuatan yang tidak membatalkan puasa, tetapi lebih baik ditinggalkan. Sementara itu, pembatal puasa menyebabkan ibadah menjadi tidak sah sehingga seseorang wajib mengganti puasanya apabila memenuhi syarat tertentu.
Perbedaan ini penting dipahami agar umat Islam tidak mudah menganggap puasanya batal hanya karena melakukan sesuatu yang sebenarnya masih diperbolehkan, meskipun hukumnya makruh.
Perbedaan tersebut dapat dipahami melalui beberapa contoh berikut.
- Berkumur secara berlebihan termasuk makruh, sedangkan menelan air dengan sengaja membatalkan puasa.
- Mencicipi makanan tanpa menelan hukumnya makruh, sedangkan sengaja memakan makanan tentu membatalkan puasa.
- Menyikat gigi dengan hati-hati tidak membatalkan puasa, tetapi jika pasta gigi tertelan dengan sengaja maka puasanya menjadi batal.
- Menghirup aroma makanan bukan pembatal puasa, tetapi melakukannya secara berlebihan demi menikmati kenikmatan makanan dipandang kurang baik oleh sebagian ulama.
Memahami perbedaan ini membantu seseorang menjalankan ibadah dengan lebih tenang sekaligus tetap berhati-hati dalam menjaga puasanya.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menjalankan Puasa
Kurangnya pemahaman mengenai hukum fikih sering kali menyebabkan seseorang melakukan kesalahan saat berpuasa. Beberapa kesalahan tersebut bahkan telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah menganggap semua hal yang makruh pasti membatalkan puasa. Akibatnya, seseorang merasa puasanya rusak padahal sebenarnya masih sah menurut syariat.
Kesalahan lainnya adalah terlalu meremehkan perkara makruh. Karena tidak membatalkan puasa, sebagian orang menganggap tidak masalah jika dilakukan berulang kali. Padahal, tujuan utama menghindari perkara makruh adalah menyempurnakan kualitas ibadah.
Beberapa kesalahan lain yang cukup sering terjadi meliputi:
- Berlebihan menggunakan pasta gigi hingga hampir tertelan.
- Sengaja mencicipi banyak masakan tanpa kebutuhan yang mendesak.
- Terlalu sering berkumur karena merasa mulut kering.
- Menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tidak bermanfaat sehingga mengurangi nilai ibadah puasa.
- Berlebihan dalam tidur sepanjang hari sehingga mengabaikan ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir.
- Mengabaikan adab menjaga lisan dengan alasan puasanya tetap sah.
Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin tidak selalu membatalkan puasa, tetapi dapat mengurangi pahala dan tujuan spiritual yang hendak dicapai selama berpuasa.
Oleh sebab itu, selain mempelajari hukum-hukum fikih, setiap muslim juga perlu memahami adab dan etika dalam menjalankan ibadah puasa agar memperoleh manfaat yang maksimal.
Tips Praktis Menghindari Perkara Makruh Saat Puasa
Menjaga puasa agar tetap sempurna membutuhkan kesadaran dan latihan. Semakin sering seseorang melatih dirinya, semakin mudah pula ia menghindari berbagai hal yang makruh.
Langkah pertama adalah memperdalam ilmu fikih mengenai puasa melalui kajian para ulama yang terpercaya. Dengan bekal ilmu, seseorang dapat membedakan mana yang membatalkan puasa, mana yang makruh, dan mana yang justru dianjurkan.
Langkah berikutnya adalah membiasakan sikap hati-hati dalam setiap aktivitas. Misalnya ketika berwudu, cukup berkumur secukupnya tanpa berlebihan. Saat menyikat gigi, lakukan dengan perlahan agar tidak ada pasta gigi yang tertelan.
Beberapa tips praktis yang dapat diterapkan antara lain:
- Menjaga niat sejak awal bahwa puasa bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
- Menghindari aktivitas yang berpotensi menyebabkan batalnya puasa.
- Membatasi kebiasaan mencicipi makanan apabila tidak benar-benar diperlukan.
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa agar perhatian tidak terfokus pada rasa lapar.
- Menyesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi tubuh sehingga tetap produktif tanpa membahayakan kesehatan.
- Menjaga lisan dari ghibah, fitnah, perkataan kasar, dan perdebatan yang tidak bermanfaat.
- Memanfaatkan waktu luang untuk melakukan amal saleh seperti sedekah atau membantu orang lain.
Selain itu, penting pula menjaga pola makan saat sahur dan berbuka. Asupan makanan yang bergizi membantu tubuh tetap bugar sehingga seseorang tidak mudah merasa lelah dan dapat menjalankan ibadah dengan lebih optimal.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas dunia dan ibadah. Islam tidak melarang bekerja atau belajar saat berpuasa, tetapi semua aktivitas tersebut hendaknya dilakukan dengan niat yang baik dan tetap memperhatikan adab selama menjalankan puasa.
Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut, seorang muslim tidak hanya mampu menghindari perkara makruh, tetapi juga meningkatkan kualitas ibadah secara keseluruhan.
Kesimpulan
Makruh saat puasa merupakan berbagai perbuatan yang tidak membatalkan puasa, tetapi lebih baik dihindari karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah atau berpotensi mengantarkan seseorang pada hal-hal yang membatalkan puasa. Memahami konsep ini membantu umat Islam menjalankan puasa dengan lebih tenang sekaligus lebih berhati-hati.
Beberapa contoh perkara makruh saat puasa antara lain berkumur secara berlebihan, mencicipi makanan tanpa kebutuhan, menggunakan pasta gigi secara berlebihan, mengunyah sesuatu yang tidak diperlukan, hingga melakukan aktivitas yang berlebihan sehingga membahayakan tubuh. Meskipun tidak membatalkan puasa, kebiasaan tersebut sebaiknya ditinggalkan demi menjaga kualitas ibadah.
Pada akhirnya, tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk pribadi yang lebih bertakwa, sabar, disiplin, dan mampu mengendalikan diri. Dengan memahami hukum-hukum fikih, menghindari perkara makruh, serta memperbanyak amal saleh, seorang muslim dapat meraih hikmah puasa secara lebih sempurna dan memperoleh pahala yang maksimal di sisi Allah Swt.
Puasa adalah ibadah yang mengajarkan adab, kesabaran, dan ketakwaan sesuai tuntunan Islam. Dengan memahaminya, ibadah menjadi lebih sempurna dan penuh keberkahan. Untuk panduan lebih lanjut, hubungi Admin Haqqi Tour.