alhaqqi.tour@gmail.com

0851-7441-2025

0851-7683-3398

0851-7441-2025

0851-7683-3398

Puasa Asyura, Simak Tata Cara dan Keutamaannya dalam Islam

Keutamaan puasa sunnah

Puasa Asyura, Simak Tata Cara dan Keutamaannya dalam Islam

Puasa Asyura merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ibadah ini dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah dan telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Banyak umat Islam yang menantikan datangnya hari Asyura karena di dalamnya terdapat berbagai keutamaan, salah satunya adalah penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah SWT.

Selain memiliki pahala yang besar, Puasa Asyura juga menjadi bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sejarah mencatat bahwa pada hari Asyura, Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Peristiwa inilah yang menjadi salah satu alasan Rasulullah ﷺ menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa pada hari tersebut. Bahkan beliau menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS dibandingkan kaum lainnya.

Keutamaan Puasa Asyura tidak hanya dijelaskan dalam hadis-hadis sahih, tetapi juga selaras dengan semangat memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram. Muharram sendiri termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan Allah SWT), sehingga setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya.

Namun demikian, masih banyak umat Islam yang belum memahami tata cara Puasa Asyura, waktu pelaksanaannya, niatnya, hingga berbagai keutamaannya menurut dalil yang sahih. Tidak sedikit pula yang masih bingung mengenai perbedaan antara Puasa Asyura dan Puasa Tasu’a serta bagaimana cara melaksanakannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai Puasa Asyura, mulai dari pengertian, dasar hukumnya, tata cara pelaksanaan, keutamaan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, hingga berbagai amalan yang dianjurkan pada hari Asyura. Dengan memahami penjelasan ini, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan ibadah tersebut dengan lebih baik serta memperoleh keutamaan yang dijanjikan Allah SWT.

Mengenal Puasa Asyura dan Dasar Hukumnya dalam Islam

Puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Kata “Asyura” berasal dari bahasa Arab “عاشوراء” yang berarti hari kesepuluh. Sejak masa Rasulullah ﷺ, puasa ini telah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS sehingga beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya.

Hadis yang menjadi dasar anjuran tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas RA:

“Rasulullah ﷺ datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, ‘Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta pengikutnya.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.’ Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.”
(HR. al-Bukhari No. 2004 dan Muslim No. 1130).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Puasa Asyura merupakan ibadah yang memiliki dasar hukum sangat kuat dalam Islam. Meskipun hukumnya sunnah, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaannya. Bahkan sebelum puasa Ramadan diwajibkan, Puasa Asyura pernah menjadi puasa yang sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin. Setelah puasa Ramadan diwajibkan, hukum Puasa Asyura berubah menjadi sunnah yang tetap memiliki pahala besar bagi siapa saja yang mengerjakannya.

Keutamaan bulan Muharram sebagai waktu pelaksanaan Puasa Asyura juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”

QS. At-Taubah ayat 36

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Oleh karena itu, memperbanyak ibadah, termasuk Puasa Asyura, menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Muharram melalui hadis berikut:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.”

(HR. Muslim No. 1163).

Hadis ini menjadi landasan bahwa seluruh amalan puasa sunnah di bulan Muharram memiliki nilai yang tinggi, termasuk Puasa Asyura. Dengan demikian, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala karena berpuasa, tetapi juga mendapatkan keutamaan karena melaksanakan ibadah pada bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Baca juga: Nilai-Nilai Akhlak yang Baik, Rahasia Menjadi Pribadi yang Dicintai

Tata Cara Puasa Asyura Sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ

Melaksanakan Puasa Asyura sebenarnya tidak berbeda dengan puasa sunnah lainnya. Seorang Muslim cukup berniat karena Allah SWT, menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kemudian berbuka ketika waktu Maghrib tiba. Meski demikian, terdapat beberapa anjuran yang dicontohkan Rasulullah ﷺ agar pelaksanaan Puasa Asyura menjadi lebih sempurna.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah niat. Dalam puasa sunnah, niat dapat dilakukan pada malam hari maupun pada pagi hari sebelum tergelincir matahari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”

(HR. al-Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907).

Niat menjadi pembeda antara ibadah dan aktivitas biasa. Oleh karena itu, ketika menjalankan Puasa Asyura, seorang Muslim hendaknya menghadirkan keikhlasan semata-mata untuk memperoleh ridha Allah SWT, bukan karena kebiasaan atau mengikuti orang lain.

Selain niat, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan agar Puasa Asyura disertai dengan Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram. Hal ini bertujuan untuk membedakan ibadah kaum Muslimin dengan kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”

(HR. Muslim No. 1134).

Hadis tersebut menjadi dasar utama anjuran menggabungkan Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura. Walaupun demikian, apabila seseorang hanya mampu melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram saja, puasanya tetap sah dan memperoleh keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis sahih.

Agar lebih mudah dipahami, berikut tata cara Puasa Asyura sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

Tahapan Penjelasan
Berniat Niat karena Allah SWT untuk melaksanakan puasa sunnah Asyura.
Sahur Dianjurkan makan sahur karena mengandung keberkahan.
Menahan diri Menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga Maghrib.
Memperbanyak ibadah Membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bersedekah, dan menjaga akhlak.
Berbuka Menyegerakan berbuka ketika matahari terbenam sebagaimana sunnah Rasulullah ﷺ.

Selain mengikuti tata cara tersebut, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak sedekah selama menjalankan Puasa Asyura. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan ketakwaan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada bagian berikutnya akan dibahas lebih rinci mengenai berbagai keutamaan Puasa Asyura, hikmah yang terkandung di dalamnya, serta amalan-amalan yang dianjurkan selama hari Asyura sehingga pelaksanaannya menjadi semakin sempurna.

Keutamaan Puasa Asyura Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis

Keutamaan Puasa Asyura merupakan salah satu alasan mengapa ibadah sunnah ini sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan kabar gembira bagi umatnya tentang besarnya pahala yang diperoleh dari puasa pada tanggal 10 Muharram. Selain menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT, puasa ini juga menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri dan menghapus dosa-dosa kecil yang pernah dilakukan. Oleh karena itu, memahami keutamaan Puasa Asyura dapat meningkatkan semangat dalam mengamalkannya setiap tahun.

Meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkan Puasa Asyura secara khusus, berbagai ayat menjelaskan keutamaan orang-orang yang berpuasa dan pentingnya memperbanyak amal saleh. Allah SWT berfirman:

“…dan jika kamu berpuasa, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 184)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah yang memiliki banyak manfaat, baik dari sisi spiritual maupun pembentukan karakter seorang Muslim. Semangat inilah yang juga menjadi landasan dalam menjalankan Puasa Asyura sebagai salah satu puasa sunnah yang dicintai Allah SWT.

Keutamaan terbesar Puasa Asyura dijelaskan secara tegas dalam hadis sahih Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

“Aku berharap kepada Allah agar puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.”
(HR. Muslim No. 1162).

Hadis tersebut menjadi dalil utama mengenai keutamaan Puasa Asyura. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil (ṣaghā’ir), sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Dengan demikian, Puasa Asyura menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan sebagai bentuk evaluasi dan penyucian diri setiap tahunnya.

Selain penghapusan dosa, terdapat berbagai keutamaan lain yang dapat diperoleh dari Puasa Asyura, di antaranya sebagai berikut.

  • Menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim.
  • Meneladani sunnah Rasulullah ﷺ yang secara langsung melaksanakan dan menganjurkan puasa pada hari Asyura kepada para sahabat.
  • Menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan pertolongan-Nya, sebagaimana disyukuri oleh Nabi Musa AS ketika diselamatkan dari Fir’aun.
  • Memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram, yaitu salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
  • Melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri, karena hakikat puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, hati, serta perilaku.
  • Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, sejalan dengan tujuan utama ibadah puasa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Keutamaan-keutamaan tersebut menunjukkan bahwa Puasa Asyura bukan sekadar ibadah sunnah biasa. Di balik pelaksanaannya terdapat hikmah yang sangat besar bagi kehidupan seorang Muslim. Oleh sebab itu, apabila memiliki kesempatan dan kondisi yang memungkinkan, hendaknya setiap Muslim berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ ini setiap datangnya bulan Muharram.

Zakat Sebagai Bentuk Kepedulian Sosial dan Penguatan Nilai Kemanusiaan

Amalan yang Dianjurkan Saat Menjalankan Puasa Asyura

Melaksanakan Puasa Asyura akan semakin sempurna apabila diiringi dengan berbagai amal saleh lainnya. Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT sehingga setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang besar di sisi-Nya. Karena itu, para ulama menganjurkan agar hari Asyura diisi dengan berbagai bentuk ibadah, bukan hanya berpuasa semata.

Selain menahan diri dari makan dan minum, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan-amalan tersebut tidak memiliki ketentuan khusus hanya pada hari Asyura, tetapi menjadi bagian dari upaya memperbanyak kebaikan pada hari yang penuh keutamaan. Dengan demikian, pahala yang diperoleh dari Puasa Asyura dapat semakin maksimal.

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan ketika melaksanakan Puasa Asyura.

  • Melaksanakan Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram. Hal ini sesuai dengan keinginan Rasulullah ﷺ untuk membedakan ibadah umat Islam dari kebiasaan kaum Yahudi.
  • Memperbanyak membaca Al-Qur’an. Membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan setiap waktu, terlebih pada bulan yang dimuliakan.
  • Memperbanyak zikir dan istighfar. Mengingat Allah SWT dan memohon ampun atas dosa-dosa menjadi bentuk penyucian hati yang sangat dianjurkan.
  • Memperbanyak doa. Hari-hari yang diisi dengan ibadah merupakan waktu yang baik untuk memohon berbagai kebaikan dunia maupun akhirat kepada Allah SWT.
  • Bersedekah kepada yang membutuhkan. Sedekah merupakan amal yang memiliki keutamaan besar dan dapat memperkuat rasa kepedulian sosial.
  • Menjaga akhlak dan lisan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang yang berpuasa hendaknya menghindari perkataan dusta, ghibah, fitnah, dan perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa.
  • Memperbanyak taubat. Muharram menjadi momentum yang baik untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dengan memohon ampun kepada Allah SWT.

Agar lebih mudah dipahami, berikut ringkasan amalan yang dapat dilakukan pada hari Asyura.

Amalan Tujuan
Puasa Tasu’a Menyempurnakan sunnah Rasulullah ﷺ
Puasa Asyura Mengharap pahala dan penghapusan dosa kecil
Membaca Al-Qur’an Menambah pahala dan memperkuat keimanan
Berzikir dan beristighfar Mengingat Allah SWT dan memohon ampun
Bersedekah Menumbuhkan kepedulian sosial
Berdoa Memohon keberkahan dan kebaikan hidup
Menjaga akhlak Menyempurnakan nilai ibadah puasa

Perlu dipahami pula bahwa terdapat beberapa amalan yang sering dikaitkan secara khusus dengan hari Asyura, tetapi tidak memiliki dasar hadis yang sahih, seperti mengkhususkan shalat tertentu, bacaan tertentu, atau ritual tertentu hanya pada tanggal 10 Muharram. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya berpegang pada dalil yang sahih dari Al-Qur’an dan Sunnah agar pelaksanaan Puasa Asyura benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Dengan mengikuti sunnah beliau, ibadah akan lebih bernilai dan terhindar dari amalan yang tidak memiliki landasan yang kuat.

Hikmah Menjalankan Puasa Asyura dalam Kehidupan Seorang Muslim

Puasa Asyura mengajarkan banyak hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui ibadah ini, seorang Muslim belajar untuk bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT, sebagaimana Nabi Musa AS bersyukur ketika diselamatkan dari kezaliman Fir’aun. Rasa syukur tersebut tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui ketaatan dan kesungguhan dalam beribadah. Di sisi lain, puasa juga melatih kesabaran, kejujuran, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu sehingga membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

Selain itu, Puasa Asyura menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas keimanan. Keutamaan berupa penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang lalu menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk memperbanyak taubat dan amal saleh. Kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin dengan memperbaiki hubungan kepada Allah SWT (hablum minallah) maupun kepada sesama manusia (hablum minannas), sehingga kehidupan menjadi lebih berkah dan penuh ketenangan.

Kesimpulan

Puasa Asyura merupakan salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ibadah ini dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan memiliki dasar yang kuat dari hadis-hadis sahih Rasulullah ﷺ. Keutamaannya yang paling utama adalah harapan dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Selain itu, pelaksanaan Puasa Asyura juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas pertolongan-Nya kepada Nabi Musa AS dan kaumnya.

Agar memperoleh keutamaan secara maksimal, Puasa Asyura sebaiknya dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, termasuk dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Puasa Tasu’a), memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bersedekah, serta menjaga akhlak. Berpegang teguh pada dalil Al-Qur’an dan hadis sahih akan membantu setiap Muslim menjalankan ibadah ini secara benar dan terhindar dari amalan yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Dengan memahami tata cara, dalil, dan hikmah Puasa Asyura, setiap Muslim diharapkan dapat menjadikan ibadah sunnah ini sebagai sarana meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah menerima setiap amal ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan memberikan keberkahan kepada setiap hamba yang berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.

Puasa adalah ibadah yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Allah. Dengan menjaganya, hati menjadi lebih tenang dan hidup semakin penuh keberkahan. Untuk panduan lebih lanjut, hubungi Admin Haqqi Tour.

Recent Listings

  • Paket Umroh Oktober 2023

  • Paket Umroh Oktober 2023

  • Paket Umroh Oktober 2023

Al-Haqqi Tour & Travel

Al-Haqqi adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Jasa Umrah & Haji, Jasa Land Arrangement Saudi, Provider Visa Umrah & Haji Furoda, Paket Umrah Plus, Paket Haji Furoda dan Paket Haji Khusus. Sebuah perusahaan travel yang berkepentingan di Negara yang berpusat di Kingdom of Saudi Arabia.

Kantor Al-Haqqi

Grand Pesona Pandanwangi D 20 Jl. Simpang L.A Sucipto Gang Makam Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing Kota Malang Jawa Timur 65124

Kontak Info

• 085174412025
• 085176833398
• alhaqqi.tour@gmail.com

Copyright © 2023 Al-Haqqi Travel