Puasa Tasu’a merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, terutama ketika memasuki bulan Muharram. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara tepat kapan Puasa Tasu’a dilaksanakan. Tidak sedikit pula yang mengira Puasa Tasu’a sama dengan Puasa Asyura, padahal keduanya memiliki tanggal pelaksanaan yang berbeda meskipun saling berkaitan.
Kesalahan dalam menentukan tanggal Puasa Tasu’a biasanya terjadi karena perbedaan penetapan awal bulan Muharram atau kurangnya pemahaman mengenai kalender Hijriah. Padahal, mengetahui waktu pelaksanaan ibadah merupakan bagian penting agar amalan yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, setiap Muslim dianjurkan untuk memperhatikan pengumuman resmi mengenai awal bulan Hijriah dari otoritas yang berwenang di negaranya.
Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, Puasa Tasu’a juga memiliki nilai historis yang erat kaitannya dengan Puasa Asyura. Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaan Puasa Tasu’a sebagai pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang pada masa itu hanya berpuasa pada hari Asyura. Anjuran ini menunjukkan bahwa syariat Islam memiliki identitas tersendiri dalam menjalankan ibadah.
Keutamaan Puasa Tasu’a juga semakin sempurna apabila dilaksanakan bersamaan dengan Puasa Asyura. Kombinasi kedua puasa sunnah ini menjadi amalan yang banyak dilakukan oleh para ulama dan kaum Muslimin sejak dahulu. Oleh karena itu, memahami jadwal pelaksanaannya menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai Puasa Tasu’a, mulai dari pengertian, dasar hukum, dalil Al-Qur’an dan hadis, alasan dianjurkannya puasa ini, hingga pentingnya menentukan tanggal pelaksanaan dengan benar. Dengan memahami pembahasan berikut, diharapkan tidak ada lagi keraguan dalam menjalankan ibadah sunnah yang penuh keberkahan ini.
Apa Itu Puasa Tasu’a? Pengertian, Sejarah, dan Dasar Hukumnya
Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, yaitu sehari sebelum Puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Kata Tasu’a berasal dari bahasa Arab التاسع (at-tāsi’) yang berarti “kesembilan”. Penamaan tersebut merujuk langsung pada hari kesembilan dalam bulan Muharram menurut kalender Hijriah.
Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Kemuliaan bulan ini disebutkan dalam Al-Qur’an melalui firman Allah SWT:
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.”
QS. At-Taubah ayat 36
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Muharram termasuk bulan yang memiliki keutamaan khusus. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk menjalankan Puasa Tasu’a sebagai salah satu ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Keutamaan bulan Muharram juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.”
HR. Muslim No. 1163
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram memiliki keutamaan yang besar. Salah satu bentuk puasa yang dianjurkan adalah Puasa Tasu’a, terutama jika disertai dengan Puasa Asyura pada keesokan harinya.
Sejarah Puasa Tasu’a berkaitan erat dengan peristiwa ketika Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun. Rasulullah SAW menyatakan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS dalam bentuk syukur kepada Allah SWT, sehingga beliau juga melaksanakan puasa pada hari tersebut.
Namun, pada akhir hayat beliau, Rasulullah SAW menyampaikan keinginan untuk menambahkan puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram. Tujuannya agar umat Islam memiliki pembeda dengan kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut:
“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
HR. Muslim No. 1134
Hadis tersebut menjadi dasar utama disyariatkannya Puasa Tasu’a. Walaupun Rasulullah SAW wafat sebelum sempat melaksanakannya pada tahun berikutnya, para ulama sepakat bahwa anjuran tersebut tetap menjadi sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam.
Mayoritas ulama dari berbagai mazhab juga menjelaskan bahwa menggabungkan Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura lebih utama dibandingkan hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Hal ini sejalan dengan tujuan Rasulullah SAW untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dari tradisi umat sebelumnya sekaligus memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Puasa Tasu’a bukan sekadar puasa sunnah biasa. Ibadah ini memiliki dasar hukum yang kuat dari hadis sahih, memiliki nilai sejarah yang penting dalam perkembangan syariat Islam, sekaligus menjadi bentuk ketaatan kepada sunnah Rasulullah SAW.
Baca juga: Pentingnya Berakhlak Baik dalam Kehidupan Sehari-Hari, Yuk Mulai Sekarang!
Mengapa Puasa Tasu’a Sangat Dianjurkan? Ini Hikmah dan Keutamaannya
Salah satu alasan utama mengapa Puasa Tasu’a sangat dianjurkan adalah karena merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Meskipun pelaksanaannya tidak bersifat wajib, puasa ini memiliki nilai ibadah yang tinggi karena didasarkan pada keinginan Rasulullah SAW untuk menyempurnakan ibadah Puasa Asyura. Dengan mengikuti sunnah beliau, seorang Muslim menunjukkan kecintaan dan keteladanan terhadap ajaran Islam.
Selain itu, Puasa Tasu’a menjadi simbol pembeda antara syariat Islam dengan tradisi ibadah umat terdahulu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umat Islam memiliki identitas tersendiri dalam menjalankan ibadah. Oleh sebab itu, beliau berencana menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram agar tidak sama persis dengan kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Hikmah ini menunjukkan pentingnya menjaga karakteristik ajaran Islam tanpa menghilangkan nilai penghormatan terhadap para nabi sebelumnya.
Keutamaan lainnya adalah kesempatan memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram. Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, setiap amal kebaikan memiliki nilai yang istimewa. Puasa sunnah yang dilakukan pada bulan ini menjadi salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa berpuasa pada bulan Muharram termasuk amalan terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan.
Meskipun hadis yang secara khusus menyebutkan penghapusan dosa setahun berkaitan dengan Puasa Asyura, para ulama menjelaskan bahwa Puasa Tasu’a memiliki keutamaan karena menjadi penyempurna ibadah tersebut. Oleh sebab itu, banyak ulama menganjurkan agar kedua puasa dilaksanakan secara bersamaan. Dengan demikian, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala menjalankan sunnah, tetapi juga mengikuti tuntunan Rasulullah SAW secara lebih sempurna.
Pada akhirnya, Puasa Tasu’a mengajarkan bahwa ketelitian dalam menjalankan ibadah sama pentingnya dengan semangat beribadah itu sendiri. Menentukan tanggal yang benar, memahami dasar hukumnya, serta mengetahui hikmah di balik pelaksanaannya akan membuat ibadah ini semakin bernilai. Oleh karena itu, setiap Muslim sebaiknya mempersiapkan diri sejak awal bulan Muharram agar dapat melaksanakan Puasa Tasu’a sesuai dengan tuntunan syariat.
Jangan Sampai Salah Menentukan Tanggal Puasa Tasu’a
Menentukan tanggal Puasa Tasu’a dengan benar merupakan hal yang sangat penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Sebab, Puasa Tasu’a hanya dilaksanakan pada 9 Muharram menurut kalender Hijriah. Apabila seseorang keliru menghitung awal bulan Muharram atau mengikuti kalender yang tidak sesuai dengan ketetapan yang berlaku di wilayahnya, maka ada kemungkinan puasa dilakukan pada hari yang berbeda. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk selalu memperhatikan penetapan awal bulan Hijriah yang diumumkan oleh pihak yang berwenang.
Dalam Islam, penentuan awal bulan Hijriah dilakukan berdasarkan rukyat (pengamatan hilal) atau hisab (perhitungan astronomi) yang diakui. Perbedaan metode terkadang menyebabkan adanya perbedaan tanggal di beberapa negara. Hal ini merupakan bagian dari ijtihad para ulama dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Yang terpenting adalah menjalankan ibadah berdasarkan ketetapan yang berlaku di tempat tinggal masing-masing sehingga tercipta keseragaman dalam pelaksanaan ibadah berjamaah.
Rasulullah SAW sendiri telah memberikan pedoman mengenai penentuan awal bulan melalui hadis berikut:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika hilal tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan menjadi tiga puluh hari.”
HR. Bukhari No. 1909 dan Muslim No. 1081
Hadis tersebut menjadi dasar utama dalam penetapan awal bulan Hijriah, termasuk bulan Muharram. Oleh karena itu, ketika pemerintah atau lembaga keagamaan yang berwenang menetapkan awal Muharram berdasarkan metode yang sah, umat Islam dianjurkan mengikutinya demi menjaga persatuan.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak salah menentukan tanggal Puasa Tasu’a.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
- Pastikan mengetahui kapan 1 Muharram dimulai. Penetapan ini menjadi dasar untuk menghitung tanggal 9 Muharram sebagai hari pelaksanaan Puasa Tasu’a.
- Ikuti keputusan pemerintah atau otoritas keagamaan resmi. Di Indonesia, penetapan kalender Hijriah umumnya diumumkan setelah sidang isbat atau kalender Hijriah resmi yang diterbitkan oleh lembaga terkait.
- Gunakan kalender Hijriah yang terpercaya. Hindari mengambil informasi dari sumber yang tidak jelas karena dapat menyebabkan kekeliruan dalam menghitung tanggal.
- Bedakan Puasa Tasu’a dengan Puasa Asyura. Puasa Tasu’a dilaksanakan pada 9 Muharram, sedangkan Puasa Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram.
- Persiapkan niat sejak malam hari. Walaupun puasa sunnah memiliki kelonggaran dalam niat selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa, mempersiapkan niat sejak malam merupakan kebiasaan yang lebih baik agar ibadah dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Dengan memahami hal-hal tersebut, seorang Muslim dapat menjalankan Puasa Tasu’a pada waktu yang tepat. Ketelitian dalam menentukan tanggal bukan sekadar persoalan administrasi kalender, melainkan bagian dari upaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW secara benar. Semakin sesuai pelaksanaan ibadah dengan tuntunan syariat, semakin besar pula harapan memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah SWT.

Tata Cara Menjalankan Puasa Tasu’a yang Benar
Pada dasarnya, tata cara Puasa Tasu’a sama seperti puasa sunnah lainnya. Seorang Muslim menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat semata-mata karena Allah SWT. Meskipun sederhana, pelaksanaan puasa ini hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan disertai amal saleh lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, memperbanyak doa, serta bersedekah.
Selain menahan lapar dan dahaga, Puasa Tasu’a juga menjadi sarana untuk melatih pengendalian diri. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hakikat puasa bukan hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta perilaku dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, nilai ibadah puasa tidak hanya terlihat secara lahiriah, tetapi juga tercermin dalam akhlak seorang Muslim.
Agar pelaksanaan Puasa Tasu’a semakin sempurna, berikut beberapa tata cara yang dapat diterapkan.
Tata Cara Puasa Tasu’a
- Berniat karena Allah SWT. Niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan sehari-hari. Keikhlasan merupakan syarat utama diterimanya setiap amal.
- Melaksanakan sahur. Sahur termasuk sunnah Rasulullah SAW yang membawa keberkahan. Beliau bersabda: “Bersahurlah kalian karena pada sahur terdapat keberkahan.” HR. Bukhari No. 1923 dan Muslim No. 1095
- Menahan diri sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Selama waktu tersebut, hindari segala hal yang membatalkan puasa serta perbuatan yang dapat mengurangi pahala.
- Menyegerakan berbuka ketika waktu magrib tiba. Rasulullah SAW menganjurkan agar kaum Muslimin tidak menunda berbuka puasa ketika matahari telah terbenam.
- Mengiringi Puasa Tasu’a dengan Puasa Asyura. Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan sunnah yang lebih utama sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
- Memperbanyak amal saleh. Isi hari puasa dengan membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, membantu sesama, serta menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Selain tata cara tersebut, penting pula memahami bahwa Puasa Tasu’a bukan sekadar rutinitas tahunan. Ibadah ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan memperbaiki diri. Momentum bulan Muharram menjadi awal yang baik untuk memperbanyak amal ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, sekaligus menumbuhkan semangat menjalankan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel Perbedaan Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura
| Aspek | Puasa Tasu’a | Puasa Asyura |
|---|---|---|
| Tanggal Pelaksanaan | 9 Muharram | 10 Muharram |
| Status Hukum | Sunnah | Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) |
| Dasar Hadis | HR. Muslim No. 1134 | HR. Bukhari dan Muslim |
| Tujuan Utama | Membedakan ibadah umat Islam dari kaum Yahudi dan menyempurnakan Puasa Asyura | Mengenang keselamatan Nabi Musa AS dan meraih keutamaan puasa |
| Keutamaan | Mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan menyempurnakan Puasa Asyura | Menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu, sebagaimana disebutkan dalam HR. Muslim No. 1162 |
| Pelaksanaan yang Dianjurkan | Bersamaan dengan Puasa Asyura | Didampingi Puasa Tasu’a agar lebih utama |
Melalui tabel di atas, terlihat bahwa Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura saling melengkapi. Meskipun keduanya dapat dipahami secara terpisah, para ulama lebih menganjurkan pelaksanaannya secara berurutan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Dengan demikian, seorang Muslim dapat menjalankan sunnah Rasulullah SAW secara lebih sempurna sekaligus memperoleh berbagai keutamaan yang dijanjikan dalam hadis-hadis sahih.
Hikmah Puasa Tasu’a bagi Kehidupan Seorang Muslim
Puasa Tasu’a bukan hanya ibadah sunnah yang dilakukan setiap datangnya bulan Muharram, tetapi juga memiliki hikmah yang sangat luas bagi kehidupan seorang Muslim. Melalui ibadah ini, seseorang belajar untuk meningkatkan ketakwaan, memperkuat kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan. Ketika Puasa Tasu’a dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, ibadah tersebut menjadi sarana pembentukan karakter yang lebih baik.
Selain itu, Puasa Tasu’a mengajarkan pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah SAW secara menyeluruh. Rasulullah tidak hanya mengajarkan ibadah yang bersifat wajib, tetapi juga memberikan teladan dalam amalan-amalan sunnah yang dapat menyempurnakan keimanan seorang Muslim. Dengan melaksanakan Puasa Tasu’a bersamaan dengan Puasa Asyura, umat Islam menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus berusaha meneladani setiap ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, Puasa Tasu’a menjadi momentum untuk memulai tahun baru Hijriah dengan semangat memperbanyak amal saleh. Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT sehingga setiap kebaikan yang dilakukan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Oleh sebab itu, jangan sampai salah menentukan tanggal Puasa Tasu’a, karena ketepatan waktu pelaksanaan merupakan bagian dari kesempurnaan dalam menjalankan sunnah.
Kesimpulan
Puasa Tasu’a merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan setiap tanggal 9 Muharram, sehari sebelum Puasa Asyura. Ibadah ini memiliki dasar hukum yang kuat berdasarkan hadis sahih Rasulullah SAW, salah satunya riwayat Imam Muslim yang menjelaskan keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan Muharram sebagai pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
Keutamaan Puasa Tasu’a tidak hanya terletak pada nilai pahala sebagai ibadah sunnah, tetapi juga pada semangat mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan memuliakan bulan Muharram yang termasuk salah satu dari empat bulan haram. Pelaksanaan Puasa Tasu’a yang disertai dengan Puasa Asyura menjadi amalan yang lebih utama menurut penjelasan para ulama karena sesuai dengan tujuan yang diajarkan Rasulullah SAW.
Agar tidak keliru dalam beribadah, umat Islam hendaknya selalu memastikan penetapan awal bulan Muharram melalui kalender Hijriah atau pengumuman resmi dari otoritas yang berwenang. Dengan demikian, Puasa Tasu’a dapat dilaksanakan tepat pada waktunya sehingga ibadah menjadi lebih sempurna dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Semoga pembahasan mengenai Puasa Tasu’a ini dapat menambah pemahaman dan menjadi motivasi untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Selain memperoleh pahala, menjalankan Puasa Tasu’a juga menjadi bentuk kecintaan kepada ajaran Islam sekaligus kesempatan memperbanyak amal saleh pada bulan yang penuh kemuliaan.
Puasa adalah ibadah yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Allah. Dengan menjaganya, hati menjadi lebih tenang dan hidup semakin penuh keberkahan. Untuk panduan lebih lanjut, hubungi Admin Haqqi Tour.