
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial. Selain rukun dan wajib haji yang harus dipenuhi agar ibadah sah dan tidak terkena denda (dam), terdapat pula berbagai sunnah haji. Sunnah ini meskipun tidak wajib, memiliki keutamaan yang sangat besar. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah ini, seorang jamaah haji dapat meraih pahala yang lebih banyak serta meneladani Nabi Muhammad ﷺ dalam setiap langkah ibadahnya.
Memahami dan melaksanakan sunnah haji menjadi bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ dan kesempurnaan dalam beribadah. Dalam artikel ini akan dijelaskan delapan sunnah haji yang penting untuk diketahui dan diamalkan selama pelaksanaan ibadah haji, dari sejak berihram hingga selesai tahallul dan tawaf wada’.
Niat Ihram dari Miqat dengan Mandi dan Parfum
Sunnah pertama yang sangat dianjurkan adalah mempersiapkan diri untuk ihram dengan mandi dan memakai wangi-wangian sebelum mengenakan kain ihram. Nabi Muhammad ﷺ sendiri mandi ketika hendak ihram dan memakai minyak wangi pada tubuhnya.
Sunnah ini dilakukan sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual dalam menghadapi rangkaian ibadah haji. Jamaah laki-laki disunnahkan menggunakan parfum pada tubuh (bukan pada kain ihram), sedangkan wanita diperbolehkan mandi dan berhias tanpa mengenakan wewangian yang menyengat. Setelah mandi dan berpakaian ihram, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak niat dan mengucapkan:
“Labbaika Allahumma Hajjan” jika berniat haji saja, atau “Labbaika Allahumma Umratan wa Hajjan” jika melaksanakan haji tamattu’.
Talbiyah dengan Suara Lantang
Mengumandangkan talbiyah adalah salah satu sunnah yang dilakukan sejak niat ihram sampai memasuki Masjidil Haram. Talbiyah yang dilafalkan:
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, laa syarika lak.”
Laki-laki disunnahkan mengucapkan talbiyah dengan suara lantang, sedangkan wanita cukup dengan suara pelan agar tidak menarik perhatian. Talbiyah adalah deklarasi kepatuhan total kepada Allah, sekaligus membedakan antara ibadah haji dengan ibadah lainnya. Nabi ﷺ memperbanyak talbiyah, terutama ketika berada di jalan menuju Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Membaca talbiyah juga bisa menenangkan hati dan mengingatkan diri akan niat utama datang ke Tanah Suci.
Masuk Ka’bah dari Pintu Hajar Aswad dan Menyentuhnya
Saat pertama kali memasuki Masjidil Haram untuk melakukan tawaf qudum (tawaf sunnah ketika baru tiba), sunnahnya adalah masuk dari arah pintu Hajar Aswad dan menyentuhnya jika memungkinkan. Rasulullah ﷺ memulai tawaf dari arah Hajar Aswad dengan mencium, menyentuh, atau melambaikan tangan jika tidak bisa menyentuhnya karena kondisi ramai.
Dalam keadaan berdesakan, menyentuh atau mencium Hajar Aswad bukan keharusan. Yang lebih penting adalah memulai putaran tawaf dari garis lurus Hajar Aswad sambil mengucapkan takbir:
“Allahu Akbar” setiap kali melewatinya. Sunnah ini menjadi simbol mengawali ibadah dengan penghormatan dan mengikuti sunnah Nabi dalam detail-detail kecil sekalipun.
Baca juga : Syarat Wajib Haji
Melakukan Raml dan Idhthiba’ dalam Tawaf
Dalam tiga putaran pertama tawaf qudum, laki-laki disunnahkan untuk melakukan raml, yaitu berjalan cepat dengan langkah kecil. Selain itu, mereka juga melakukan idhthiba’, yaitu membuka bahu kanan dengan menyelipkan kain ihram di bawah ketiak kanan dan meletakkan ujung lainnya di bahu kiri.
Sunnah ini hanya dilakukan pada tawaf pertama (tawaf qudum) dan tidak dilakukan lagi di tawaf-tawaf lain. Raml dan idhthiba’ menunjukkan kesiapan dan semangat dalam beribadah, mencerminkan kekuatan umat Islam ketika memasuki Baitullah. Setelah tawaf selesai, posisi kain ihram dikembalikan seperti semula.
Mabit di Mina pada Hari Tasyriq
Walaupun mabit (bermalam) di Mina termasuk wajib haji, namun memperbanyak dzikir dan ibadah sunnah di tempat ini merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Pada hari-hari tasyriq (11–13 Dzulhijjah), jamaah haji tinggal di Mina untuk melempar jumrah dan memperbanyak ibadah.
Sunnah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak takbir dan dzikir
- Membaca Al-Qur’an dan shalat sunnah
- Menuntut ilmu dengan menghadiri kajian atau ceramah
- Berdzikir setelah melempar jumrah dan sebelum kembali ke tenda
Suasana Mina menjadi tempat perenungan, introspeksi, serta menambah semangat spiritual setelah puncak haji di Arafah dan Muzdalifah.
Mandi untuk Wuquf di Arafah
Wuquf di Arafah adalah rukun haji yang sangat penting. Namun, ada sunnah yang dianjurkan sebelum melaksanakannya, yaitu mandi sebelum memasuki kawasan Arafah. Nabi Muhammad ﷺ dilaporkan mandi sebelum wuquf, menunjukkan pentingnya kesiapan diri sebelum bertemu dengan momen spiritual tertinggi dalam haji.
Mandi sunnah ini bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin. Jamaah juga dianjurkan mengenakan pakaian ihram yang bersih, menjaga wudu, serta memperbanyak doa dan dzikir. Ketika masuk waktu Dzuhur dan Ashar, jamaah melaksanakan shalat jamak dan qashar di Masjid Namirah.
Setelah itu, sunnahnya adalah memperbanyak doa hingga matahari terbenam. Doa di Arafah adalah salah satu doa yang paling mustajab, dan banyak jamaah yang meneteskan air mata karena keharuan dan kebesaran momen tersebut.

Menyembelih Hewan Kurban Sendiri atau Menyaksikannya
Bagi yang berhaji tamattu’ atau qiran, wajib menyembelih hewan kurban (hadyu). Namun, menyembelih hewan sendiri atau menyaksikan penyembelihannya merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ menyembelih dengan tangannya sendiri dan bertakbir sebelum memotong.
Jika tidak memungkinkan untuk menyembelih sendiri, jamaah bisa menyaksikannya atau mewakilkan tetapi tetap bertakbir dan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penyembelihan ini juga ada pelajaran pengorbanan dan keikhlasan, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang menjadi simbol ketaatan total kepada perintah Allah.
- Menyembelih hewan sendiri mendatangkan pahala lebih besar
- Menyaksikan kurban sunnah, meskipun dilakukan oleh wakil
- Dianjurkan membaca takbir saat proses penyembelihan
Melakukan Tawaf Wada’ dengan Khusyuk
Tawaf wada’ atau tawaf perpisahan adalah tawaf terakhir sebelum meninggalkan Mekkah. Meskipun hukumnya wajib bagi yang tidak sedang haid atau nifas, namun memperindah dan memperbanyak dzikir saat melakukannya termasuk sunnah yang sangat dianjurkan.
Tawaf wada’ menjadi momen haru bagi banyak jamaah karena ini adalah saat terakhir berada di Baitullah sebelum kembali ke tanah air. Sunnah dalam tawaf ini adalah:
- Berjalan pelan dengan khusyuk
- Tidak banyak berbicara kecuali untuk doa dan dzikir
- Berdoa sebanyak-banyaknya, termasuk doa agar bisa kembali ke Tanah Suci
Meninggalkan Ka’bah setelah tawaf wada’ mengajarkan keikhlasan dan semangat untuk menjaga ibadah dan perubahan diri setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.
Baca juga : Rukun Haji
Penutup
Mengamalkan sunnah haji bukanlah kewajiban, tetapi merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan penyempurna dari ibadah haji itu sendiri. Sunnah-sunnah ini mencakup berbagai aspek: dari fisik seperti mandi dan parfum saat ihram, ibadah seperti talbiyah dan tawaf, hingga kesadaran spiritual seperti doa di Arafah dan dzikir di Mina.
Setiap sunnah membawa makna yang dalam dan keutamaan pahala. Dengan memperbanyak sunnah, jamaah haji dapat merasakan pengalaman spiritual yang lebih kuat dan menjadikan hajinya semakin bermakna. Sunnah bukanlah beban, melainkan anugerah yang menghidupkan semangat ibadah dan meneladani sang Rasul dalam setiap langkah.
Semoga kita semua dimudahkan untuk menjalankan haji yang mabrur, lengkap dengan sunnah-sunnahnya, dan mampu menjaga kemabruran itu sepulang dari Tanah Suci.
Bagi Anda yang ingin melakukan wakaf Al-quran Haqqi Tour and Travel menyediakan layanan terpercaya untuk memenuhi ibadah ini. Hubungi Admin Haqqi Tour untuk informasi selengkapnya. Bersama Haqqi, jalani ibadah dengan ketenangan dan kepercayaan, memastikan kewajiban agama tetap terlaksana dengan baik.