Tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha merupakan salah satu pembahasan penting yang selalu dicari umat Islam menjelang dua hari raya besar. Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menyambut Idul Fitri setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan, dan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah sebagai puncak ibadah haji dan momentum berkurban. Oleh karena itu, memahami tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha lengkap dengan sunnahnya menjadi kebutuhan agar ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Sholat Idul Fitri dan Idul Adha termasuk sholat sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Mayoritas ulama bahkan menyebutkan hukumnya mendekati wajib karena Rasulullah ﷺ selalu melaksanakannya dan memerintahkan para sahabat, termasuk wanita dan anak-anak, untuk menghadirinya. Dalilnya terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum wanita untuk keluar menghadiri sholat Id.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha, mulai dari hukum, waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, bacaan, khutbah, hingga sunnah-sunnah yang menyertainya. Penjelasan akan dilengkapi dengan dalil Al-Qur’an dan hadis dari sumber terpercaya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang benar dan sesuai syariat.
Pengertian dan Hukum Sholat Idul Fitri dan Idul Adha
Sholat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sholat sunnah dua rakaat yang dilaksanakan secara berjamaah pada pagi hari raya. Disebut “Id” yang berarti kembali, karena hari raya merupakan momen kembali kepada kesucian (Idul Fitri) dan kembali kepada nilai pengorbanan serta ketakwaan (Idul Adha).
Dalam Al-Qur’an, perintah sholat Idul Adha dikaitkan dengan ibadah kurban sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menjadi dalil bahwa sholat Idul Adha disyariatkan bersamaan dengan ibadah kurban. Sedangkan untuk Idul Fitri, para ulama mengaitkannya dengan firman Allah dalam Surah Al-A’la ayat 14–15:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan berzakat), dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia sholat.” (QS. Al-A’la: 14–15)
Menurut tafsir para sahabat seperti Ibnu Umar dan Abu Sa’id Al-Khudri, ayat ini berkaitan dengan zakat fitrah dan sholat Idul Fitri.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat Id. Mazhab Syafi’i dan Maliki menyatakan hukumnya sunnah muakkadah. Mazhab Hanafi menyebutnya wajib, sedangkan sebagian ulama Hanbali menyatakan fardhu kifayah. Perbedaan ini menunjukkan betapa pentingnya sholat Id dalam syariat Islam.
Dengan memahami dasar hukum ini, umat Islam diharapkan tidak meremehkan tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha, karena ibadah ini merupakan syiar besar Islam yang dilaksanakan secara terbuka dan berjamaah.
Baca juga: Keutamaan Menjaga Silaturahmi Menurut Hadis dan Ajaran Islam
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Sholat Id
Waktu pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dimulai setelah matahari terbit setinggi tombak, sekitar 15–20 menit setelah terbit, hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Hal ini berdasarkan praktik Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan sholat Id ketika matahari telah naik. Para ulama menjelaskan bahwa pelaksanaan Idul Adha dianjurkan lebih awal agar memberi kesempatan luas untuk menyembelih hewan kurban, sedangkan Idul Fitri sedikit diakhirkan untuk memberi waktu membayar zakat fitrah.
Tempat pelaksanaan sholat Id pada masa Rasulullah ﷺ umumnya di lapangan terbuka (mushalla). Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi ﷺ keluar menuju lapangan untuk melaksanakan sholat Id.
Namun, jika ada uzur seperti hujan atau kondisi tertentu, sholat Id boleh dilaksanakan di masjid. Hal ini pernah terjadi pada masa sahabat dan para tabi’in. Dengan demikian, tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha tetap sah baik di lapangan maupun di masjid.
Pelaksanaan secara berjamaah sangat dianjurkan karena sholat Id merupakan syiar kebersamaan umat Islam. Bahkan wanita yang sedang haid dianjurkan tetap hadir untuk mendengarkan khutbah, meskipun tidak ikut sholat, sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Idul Adha
Secara umum, tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha terdiri dari dua rakaat tanpa adzan dan iqamah. Berikut urutannya:
a. Niat
Niat dilakukan dalam hati sebelum takbiratul ihram. Contohnya:
- “Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala.”
- “Ushalli sunnatan li ‘idil adha rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala.”
b. Rakaat Pertama
- Takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah.
- Takbir tambahan sebanyak 7 kali (tidak termasuk takbiratul ihram).
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca surat, dianjurkan Surah Al-A’la (HR. Muslim).
- Ruku’, i’tidal, sujud seperti biasa.
c. Rakaat Kedua
- Bangkit dari sujud lalu takbir.
- Takbir tambahan sebanyak 5 kali.
- Membaca Al-Fatihah.
- Dianjurkan membaca Surah Al-Ghasyiyah (HR. Muslim).
Ruku’, i’tidal, sujud, tasyahud, dan salam.
d. Tanpa Adzan dan Iqamah
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa sholat Id dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah.

Sunnah-Sunnah dalam Sholat Idul Fitri dan Idul Adha
Selain memahami tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha, ada beberapa sunnah yang dianjurkan:
a. Sunnah Sebelum Sholat
- Mandi sebelum berangkat (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’).
- Memakai pakaian terbaik.
- Makan terlebih dahulu sebelum Idul Fitri (HR. Bukhari).
- Tidak makan sebelum Idul Adha sampai pulang dan makan dari daging kurban (HR. Ahmad).
- Bertakbir sejak malam hari raya hingga sholat dimulai (QS. Al-Baqarah: 185).
b. Sunnah Saat Berangkat dan Pulang
- Berjalan kaki jika memungkinkan.
- Mengambil jalan berbeda saat pergi dan pulang (HR. Bukhari).
- Bertakbir dengan suara lantang (khusus laki-laki).
c. Sunnah Setelah Sholat
- Mendengarkan khutbah hingga selesai.
- Saling mengucapkan tahniah, seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum.”
Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha serta Hikmahnya
Khutbah dalam tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan setelah sholat, berbeda dengan sholat Jumat. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ memulai dengan sholat lalu berkhutbah.
Khutbah Id biasanya terdiri dari dua khutbah, dipisahkan dengan duduk singkat. Isinya mengingatkan tentang ketakwaan, zakat fitrah (Idul Fitri), atau ibadah kurban (Idul Adha), serta ajakan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Hikmah dari pelaksanaan sholat Id dan khutbahnya adalah memperkuat persatuan umat, memperbaharui semangat ibadah, serta menegaskan syiar Islam di tengah masyarakat. Hari raya bukan sekadar perayaan, tetapi momentum peningkatan ketakwaan sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 37 bahwa yang sampai kepada Allah bukan daging dan darah kurban, melainkan ketakwaan.
Kesimpulan
Tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha lengkap dengan sunnahnya merupakan panduan penting bagi setiap Muslim agar ibadah hari raya sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Sholat ini dilaksanakan dua rakaat dengan takbir tambahan, tanpa adzan dan iqamah, serta diikuti khutbah setelahnya.
Dengan memahami waktu, tempat, niat, bacaan surat seperti Al-A’la dan Al-Ghasyiyah, serta sunnah-sunnah sebelum dan sesudah sholat, umat Islam dapat melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dengan lebih khusyuk dan benar. Dalil dari Al-Qur’an dan hadis sahih menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki kedudukan agung dalam Islam.
Semoga dengan memahami dan mengamalkan tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha secara benar, kita termasuk hamba yang mendapatkan keberkahan, ampunan, dan peningkatan ketakwaan di hari raya. Taqabbalallahu minna wa minkum.
Sholat Idul Fitri dan Idul Adha menjadi momen istimewa untuk menyempurnakan ibadah dan mempererat ukhuwah. Laksanakan tata cara sholat Idul Fitri dan Idul Adha sesuai sunnah agar lebih khusyuk dan bernilai di sisi Allah SWT. Hubungi Admin Haqqi Tour untuk panduan lengkap seputar ibadah hari raya.