
Hukum mengaqiqahi bayi yang sudah meninggal atau sudah berumur lebih dari tujuh hari, menjadi perdebatan para ulama yang berbeda pendapat mengenai hukum aqiqahnya sebagai berikut :
Beberapa pendapat Ulama
Pendapat pertama, adalah pendapat Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa aqiqah untuk anak yang sudah meninggal hukumnya wajib secara mutlak. (al-Muhalla, vol. 6, hlm. 234).
sunnah hukumnya melaksanakan aqiqah dalam keadaan tersebut. Pendapat ini adalah salah satu dari dua versi pendapat madzhab Syafi’i sebagaimana yang disebutkan oleh Ar-Rafi’i, sekaligus sependapat dengan madzhab Hambali (asy-Syarh al-Mumti’, vol. 7, hlm. 540).
Pendapat ketiga, jika anak dalam keadaan sudah meninggal maka gugur hukum mengaqiqahinya. Pendapat ini merupakan versi lain dari pendapat madzhab Syafi’i yang juga merupakan pendapat madzhab Maliki. (al-Majmu’ : vol. 8, hlm. 432, al-Muntaqa : vol. 4, hlm. 200).
Dari perbedaan pendapat di atas, pendapat yang paling rajih (kuat) adalah pendapat kedua yang menyatakan bahwa disunnahkan mengaqiqahi anak meskipun sudah meninggal.
Alasan pertarjihannya adalah sebegai berikut:
Pertama, Para fuqaha sepakat bahwa kelahiran anak menjadi sebab pelaksanaan aqiqah untuk anak. Maka dari sinilah, pelaksanaan aqiqah itu masih tetap ada meskipun keadaan anak sudah meninggal. Sehingga pendapat yang mengatakan gugurnya pelaksanaan aqiqah untuk anak yang sudah meninggal adalah pendapat yang lemah karena alasan tersebut. (al-Mufashshol fi Ahkam al-‘Aqiqah, hlm. 147).
Dalam kaidah fiqih disebutkan :
زَوَالُ الأَحْكَامِ بِزَوَالِ أَسْبَابِهَا
“Tiadanya hukum disebabkan oleh tiadanya sebab-sebab pelaksanaan hukumnya” (Izzuddin bin Abdis Salam, Qowa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, vol. 2, hlm. 3).
Kedua, pendapat pertama yang mewajibkan aqiqah untuk anak yang sudah meninggal, juga merupakan pendapat yang lemah. Hal ini dikarenakan kesimpulan hukum berdasarkan lafal perintah Nabi “amarahum” (beliau memerintahkan mereka) yang dari kata tersebut menunjukkan sesuatu yang wajib, sehingga hukum aqiqahnya menjadi wajib menurut ulama Zhahiriyah. (Ash-Shan’ani, Subul as-Salam, vol. 4, hlm. 97-98).
Seandainya aqiqah itu hukumnya wajib, niscaya tidak dikaitkan dengan kesukaan mukallaf, meliankan harus dilakukan baik dalam keadaan yang disukai mukallaf maupun tidak. (Imam An-Nawawi, al-Majmu’, vol. 8, hlm. 426)
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده ” قال سئل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن العقيقة فقال لا أحب العقوق وكأنه كره الاسم فقالوا يا رسول الله إنما نسألك عن أحدنا يولد له قال من أحب منكم أن ينسك عن ولده فليفعل عن الغلام شاتان مكافأتان وعن الجارية شاة “
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- pernah ditanya mengenai Aqiqah, lalu beliau menjawab, “Saya tidak menyukai istilah “al-‘Uquq” , seakan-akan beliau membenci penamaan tersebut. Lalu para sahabat bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang kami tanyakan kepada anda adalah mengenai salah satu di antara kami yang anaknya lahir. Maka beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembelih aqiqah untuk kelahiran anaknya maka hendaklah ia melakukannya, dua kambing yang setara untuk anak laki-laki, dan satu kambing untuk anak perempuan.” (HR. Ahmad 2/182, Abu Dawud no. 2742, dan An-Nasa’i 7/626)
Berdasarkan dua alasan tersebut, maka pendapat yang paling kuat (rajih) adalah yang tetap mensunnahkan aqiqah untuk anak walaupun anaknya sudah meninggal. Imam Nawawi berkata,”Kalau sekiranya anak yang dilahirkan meninggal setelah hari ketujuh dan setelah adanya kemampuan untuk menyelembelih aqiqah, maka di sini ada dua pendapat sebagaimana disebutkan oleh Imam Rafi’i; yang pertama dan ini yang paling sahih, yakni tetap mustahab (sunnah) untuk mengaqiqahi anak tersebut” (al-Majmu’, 8/432). Wallahu ‘Alam bish Showab. [azzam -ed].
Keutamaan Aqiqah
Aqiqah memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dikabarkan di dalam hadis shahih dari sahabat Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani).
Imam Al-Khattabi rahimahullah menerangkan makna hadis ini dengan menukil keterangan Imam Ahmad,
قال أحمد: هذا في الشفاعة يريد أنه إن لم يعق عنه فمات طفلاً لم يُشفع في والديه
Imam Ahmad berkata, ”Makna tergadaikan di sini adalah terhalang dari syafaat. Jika tidak diaqiqahi, kemudian anak meninggal sebelum baligh, maka orang tua terhalang dari syafaat anak.”
(Lihat: Al-Mifshal fi Ahkam Al-Aqiqah, hal. 30).
Penjelasan Imam Ahmad di atas dikuatkan oleh Ibnu Hajar –rahimahullah-,
اختلف الناس في هذا، وأجود ما قيل فيه: ما ذهب إليه أحمد بن حنبل قال: هذا في الشفاعة، يريد أنه إذا لم يعق عنه فمات طفلاً لم يشفع في أبويه
“Para ulama berbeda pendapat tentang makna “anak tergadai sampai diaqiqahi”. Namun pendapat yang paling bagus adalah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hambal, beliau mengatakan, “Hadis ini berkenaan syafa’at” Maksud beliau jika anak belum ditunaikan aqiqahnya lalu meninggal saat masih kecil, maka kedua orangtuanya tidak bisa mendapat syafaatnya.” (Fathul Bari, jilid 12 hal. 410).
Mengingat keutamaan yang besar ini, maka tetap dianjurkan mengaqiqahi bayi yang lahir meskipun telah meninggal. Sebagaimana dijelaskan dalam Fatwa Lajnah Da-imah (Majelis Fatwa dan Ulama Senior Saudi Arabia) berikut,
إذا توفي الحمل بعد نفخ الروح فيه، وسقط من بطن أمه فإنه يغسل ويكفن ويصلى عليه ويدفن، ويستحب أن يسمى وأن يعق عنه وهو ما تسمونه الطلوعة، والسنة عن الذكر اثنتان وعن الأنثى واحدة من الغنم كل واحدة تجزئ في الأضحية. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
“Jika janin meninggal setelah ditiupkan ruh, kemudian ibunya keguguran, maka janin itu dimandikan, dikafani dan disholatkan, kemudian dikuburkan. Disunnahkan diberi nama dan diaqiqahkan. Bagi anak laki-laki dua kambing, anak perempuan satu kambing, kriterianya adalah kambing yang sah untuk qurban. Semoga Allah memberikan taufiq, shalawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad serta keluarga dan para sahabat beliau.” (Fatwa Lajnah Da-imah jilid 10 hal. 459-460).
Selain itu, bayi yang sudah ditiupkan ruh (yakni sejak umur 4 bulan di dalam kandungan), sudah dihukumi sebagai manusia. Yang kelak di hari kiamat akan dibangkitkan. Sehingga dianjurkan diaqiqahkan.